A.
KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN
Media
berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara
harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar
sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang
media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah
teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana
fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video
dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan
bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun
pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras (Arief S. Sadiman dkk, 2006:
6-7). Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran,
perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses
belajar pada diri peserta didik.
Dalam
pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar
merupakan komponen dari sistem pembelajaran di samping pesan, orang, teknik
latar dan peralatan. Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan.
Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi
pendidikan yang biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan. Peralatan atau
perangkat keras (hardware) merupakan saana untuk dapat menampilkan pesan yang
terkandung pada media tersebut (Arief S. Sadiman dkk, 2006: 19). Jadi, media
terdiri atas dua unsur yaitu perangkat keras (hardware) atau alat dan perangkat
lunak (software) atau bahan. Transparansi, program video adalah software atau
bahan. Software atau bahan tersebut hanya bisa disajikan jika tersedia alatnya,
yaitu OHP, video player.
Agar lebih jelas lagi perlu juga dikemukakan konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran, yaitu sumber belajar. Konsep sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu semua sumber (baik berupa data, orang, benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas/kemudahan belajar bagi peserta didik. Sumber belajar meliputi POBATEL:
Agar lebih jelas lagi perlu juga dikemukakan konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran, yaitu sumber belajar. Konsep sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu semua sumber (baik berupa data, orang, benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas/kemudahan belajar bagi peserta didik. Sumber belajar meliputi POBATEL:
Pesan (ide, fakta, data, ajaran,
informasi, dll)
Orang (guru, dosen, instruktur,
widyaiswara, dll)
Bahan (buku teks, modul,
transparansi, kaset program audio, film, program CAI/CBI, dll)
Alat (OHP, komputer, tape recorder,
CD player, dll)
Teknik (praktikum, demonstrasi,
diskusi, tutorial, pembelajaran mandiri, dll)
Lingkungan (gedung sekolah, kebun,
pasar, dll)
Apa pula
bedanya dengan alat peraga, dan alat bantu pembelajaran? Pada dasarnya keduanya
termasuk dalam media, karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut
dari konsep-konsep tersebut. Alat peraga adalah alat atau benda yang digunakan
untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar tampak
lebih nyata/konkret. Alat bantu adalah alat/benda yang digunakan oleh guru
untuk mempermudah tugas dalam mengajar.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad Ke –20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio, sehingga lahirlah alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
1.
Fungsi Media Pembelajaran
Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1)
Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh
para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari
faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan
buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi
perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung
yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud
bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang
dapat disajikan secara audio visual dan auditif.
2)
Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak
mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang
suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek
terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak
terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu
halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan
media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3.Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
3.Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
3)
Media menghasilkan keseragaman pengamatan
4)
Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
5)
Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
6)
Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
7)
Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai
dengan abstrak
Lebih rinci, Rahardi (2004) mengklasifikasikan manfaat media pembelajaran menjadi tiga, yaitu manfaat secara umum, manfaat secara rinci, dan manfaat praktis. Manfaat secara umum dari media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan peserta didik sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
Manfaat secara rinci, yakni: (1) penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan, (2) proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, (3) proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, (4) evisiensi dalam waktu dan tenaga, (5) meningkatkan kualitas hasil belajar, (6) memungkinkan proses belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, (7) dapat menumbuhkan sikap positif peserta didik terhadap materi dan proses belajar, (8) mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
Sedang manfaat praktisnya adalah: (1) membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi konkret, (2) mengatasi kendala ruang dan waktu, (3) membantu mengatasi keterbatasan indra manusia, (4) dapat menyajikan peristiwa langka dan berbahaya dalam kelas, (5) memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri peserta didik (Rahardi, 2004: 13-16)
Lebih rinci, Rahardi (2004) mengklasifikasikan manfaat media pembelajaran menjadi tiga, yaitu manfaat secara umum, manfaat secara rinci, dan manfaat praktis. Manfaat secara umum dari media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan peserta didik sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien.
Manfaat secara rinci, yakni: (1) penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan, (2) proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, (3) proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, (4) evisiensi dalam waktu dan tenaga, (5) meningkatkan kualitas hasil belajar, (6) memungkinkan proses belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, (7) dapat menumbuhkan sikap positif peserta didik terhadap materi dan proses belajar, (8) mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
Sedang manfaat praktisnya adalah: (1) membuat materi pelajaran yang abstrak menjadi konkret, (2) mengatasi kendala ruang dan waktu, (3) membantu mengatasi keterbatasan indra manusia, (4) dapat menyajikan peristiwa langka dan berbahaya dalam kelas, (5) memberikan kesan mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri peserta didik (Rahardi, 2004: 13-16)
2.
Ciri-ciri Media Pembelajaran
Gerlach &
Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media
digunakan dan apa saja yang dapat dilakukan media yang mungkin guru tidak mampu
(kurang efisien) melakukannya
Ciri fiksatif (Fixative property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.
Ciri Manipulatif (Manipulative
property)
Transformasi suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki cirri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-laps recording.
Transformasi suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki cirri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-laps recording.
Ciri distributif (distributive
property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu (Azhar Arsyad, 2007: 12-14)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu (Azhar Arsyad, 2007: 12-14)
3.
Jenis-jenis Media Pembelajaran
Ditinjau
dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu media
jadi karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan terdapat di pasaran luas
dalam keadaan siap pakai (media by utilization), dan media rancangan karena
perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk maksud atau tujuan
pembelajaran tertentu (media by design). Masing-masing jenis media ini
mempunyai kelebihan dan keterbatasan. Kelebihan dari media jadi adalah hemat
dalam waktu, tenaga dan biaya untuk pengadaannya. Sebaliknya, mempersiapkan media
yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan tertentu akan memeras
banyak waktu, tenaga meupun biaya karena untuk mendapatkan keandalan dan
kesahihannya diperlukan serangkaian kegiatan validasi prototipenya. Kekurangan
dari media jadi adalah kecilnya kemungkinan untuk mendapatkan media jadi yang
dapat sepenuhnya sesuai dengan tujuan atau kebutuhan pembelajaran setempat
(Arief S. Sadiman dkk, 2006: 83-84)
Ditinjau dari bentuknya, terdapat berbagai jenis media pembelajaran, diantaranya :
1.Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2.Media Auditif : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3.Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4.Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Ditinjau dari bentuknya, terdapat berbagai jenis media pembelajaran, diantaranya :
1.Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2.Media Auditif : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3.Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4.Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Anderson
(1976) mengelompokkan media pembelajaran menjadi 10 golongan sebagai berikut.
No Golongan Media Contoh
1 Audio Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2 Cetak Buku pelajaran, modul, brosur, koran, foto/ gambar
3 Audio-cetak Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4 Proyeksi visual diam Overhead transparansi (OHT)
5 Proyeksi audio visual Film bingkai (slide) bersuara
6 Visual gerak Film bisu, animasi
7 Audio visual gerak Film gerak bersuara, video/VCD, televisi
8 Objek fisik Benda nyata, model, spesimen
9 Manusia dan lingkungan Guru, pustakawan, laboran
10 Komputer CAI, CBI,
No Golongan Media Contoh
1 Audio Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2 Cetak Buku pelajaran, modul, brosur, koran, foto/ gambar
3 Audio-cetak Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4 Proyeksi visual diam Overhead transparansi (OHT)
5 Proyeksi audio visual Film bingkai (slide) bersuara
6 Visual gerak Film bisu, animasi
7 Audio visual gerak Film gerak bersuara, video/VCD, televisi
8 Objek fisik Benda nyata, model, spesimen
9 Manusia dan lingkungan Guru, pustakawan, laboran
10 Komputer CAI, CBI,
4.
Kriteria Memilih Media Pembelajaran
Keberhasilan
menggunakan media dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar
tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan (3)
karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan
media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. Tidak berarti bahwa semakin
canggih media yang digunakan akan semakin tinggi hasil belajar atau sebaliknya.
Untuk tujuan pembelajaran tertentu dapat saja penggunaan papan tulis lebih
efektif dan lebih efesien daripada penggunaan LCD, apabila bahan ajarnya
dikemas dengan tepat serta disajikan kepada siswa yang tepat pula. Sungguhpun
demikian, secara operasional ada sejumlah pertimbangan dalam memilih media
pembelajaran yang tepat, antara lain :
1.Access
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang diperlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu, apakah ada saluran untuk koneksi ke internet, adakah jaringan teleponnya? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diizinkan untuk menggunakan komputer yang terhubung ke internet? Jangan hanya kepala sekolah saja yang boleh menggunakan internet, tetapi juga guru/karyawan dan murid. Bahkan murid lebih penting untuk memperoleh akses.
2.Cost
Biaya juga harus menjadi bahan pertimbangan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media pembelajaran yang canggih biasanya mahal. Namun biaya itu harus kita hitung dengan aspek manfaat. Sebab semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.
3.Technology
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tetapi kita perlu memperhatikan apakah teknisinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual untuk di kelas, perlu kita pertimbangkan, apakah ada aliran listriknya, apakah voltase listriknya cukup dan sesuai, bagaimana cara mengoperasikannya?
1.Access
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media. Apakah media yang diperlukan itu tersedia, mudah dan dapat dimanfaatkan oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan terlebih dahulu, apakah ada saluran untuk koneksi ke internet, adakah jaringan teleponnya? Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diizinkan untuk menggunakan komputer yang terhubung ke internet? Jangan hanya kepala sekolah saja yang boleh menggunakan internet, tetapi juga guru/karyawan dan murid. Bahkan murid lebih penting untuk memperoleh akses.
2.Cost
Biaya juga harus menjadi bahan pertimbangan. Banyak jenis media yang dapat menjadi pilihan kita. Media pembelajaran yang canggih biasanya mahal. Namun biaya itu harus kita hitung dengan aspek manfaat. Sebab semakin banyak yang menggunakan, maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.
3.Technology
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu. Tetapi kita perlu memperhatikan apakah teknisinya tersedia dan mudah menggunakannya? Katakanlah kita ingin menggunakan media audio visual untuk di kelas, perlu kita pertimbangkan, apakah ada aliran listriknya, apakah voltase listriknya cukup dan sesuai, bagaimana cara mengoperasikannya?
4.Interactivity
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Semua kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
5.Organization
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya apakah pimpinan sekolah atau pimpinan yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya? Apakah di sekolah tersedia sarana yang disebut pusat sumber belajar?
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah atau interaktivitas. Semua kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru tentu saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
5.Organization
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya apakah pimpinan sekolah atau pimpinan yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya? Apakah di sekolah tersedia sarana yang disebut pusat sumber belajar?
6.Novelty
Kebaruan dari media yang akan dipilih juga harus menjadi pertimbangan. Sebab media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi murid. Dari beberapa pertimbangan di atas, yang terpenting adalah adanya perubahan sikap guru agar mau memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran yang “mudah dan murah”, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitarnya serta memunculkan ide dan kreativitas yang dimilikinya.
Kebaruan dari media yang akan dipilih juga harus menjadi pertimbangan. Sebab media yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi murid. Dari beberapa pertimbangan di atas, yang terpenting adalah adanya perubahan sikap guru agar mau memanfaatkan dan mengembangkan media pembelajaran yang “mudah dan murah”, dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitarnya serta memunculkan ide dan kreativitas yang dimilikinya.
Kriteria
yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan
tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan
atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata, tentunya media
audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai
bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau
tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan
video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat
melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta
didik; ketersediaan; dan mutu teknis.
Lebih terperinci beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media dapat dijelaskan sebagai berikut:
Lebih terperinci beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Sesuai dengan tujuan atau standar kompetensi yang ingin dicapai. Media dipilih
berdasarkan tujuan atau standar kompetensi yang telah ditetapkan yang secara
umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua atau tiga ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor.
b.
Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau
generalisasi.
c.
Praktis, luwes, dan bertahan
d.
Guru terampil menggunakannya
e.
Pengelompokan sasaran. Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama
efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil atau perorangan.
f.
Mutu teknis. Pengembangan visual baik gambar maupun fotografi harus memenuhi
persyaratan teknis tertentu. Misalnya, visual pada slide harus jelas dan
informasi atau pesan yang ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh
terganggu oleh elemen lain yang berupa latar belakang (Azhar Arsyad,
2007:75-76)
5.
Pengembangan Media Pembelajaran
Pengembangan media pembelajaran hendaknya dilakukan dengan persiapan dan perencanaan yang teliti. Langkah-langkah dalam program pengembangan media dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pengembangan media pembelajaran hendaknya dilakukan dengan persiapan dan perencanaan yang teliti. Langkah-langkah dalam program pengembangan media dapat dijelaskan sebagai berikut:
a)
Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
b)
Merumuskan tujuan instruksional (standar kompetensi) secara operasional dank
has
c)
Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya
tujuan
d)
Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
e)
Menulis naskah media
f)
Mengadakan tes dan revis
B.
Pengertian dan Fungsi Televisi
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar
bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata
"televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε,
"jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi
jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”
Penggunaan kata "Televisi"
sendiri juga dapat merujuk kepada "kotak televisi", "acara televisi", ataupun "transmisi
televisi". Penemuan televisi disejajarkan
dengan penemuan roda, karena penemuan ini
mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal
sering disebut dengan TV (dibaca: tivi, teve
ataupun tipi.)
Kotak televisi pertama kali dijual
secara komersial sejak tahun 1920-an, dan sejak saat itu televisi telah menjadi barang biasa di
rumah, kantor bisnis, maupun institusi, khususnya sebagai sumber kebutuhan akan
hiburan dan berita serta menjadi media
periklanan. Sejak 1970-an, kemunculan kaset video, cakram laser, DVD dan kini cakram Blu-ray, juga menjadikan kotak televisi sebagai alat untuk untuk
melihat materi siaran serta hasil rekaman. Dalam tahun-tahun terakhir, siaran
televisi telah dapat diakses melalui Internet, misalnya melalui iPlayer dan
Hulu.
Walaupun terdapat bentuk televisi lain
seperti televisi
sirkuit tertutup, namun jenis televisi
yang paling sering digunakan adalah televisi penyiaran, yang
dibuat berdasarkan sistem penyiaran radio yang dikembangkan
sekitar tahun 1920-an, menggunakan pemancar frekuensi radio berkekuatan tinggi
untuk memancarkan gelombang televisi ke penerima gelombang televisi.
Penyiaran TV biasanya disebarkan
melalui gelombang radio VHF dan UHF dalam jalur frekuensi yang ditetapkan antara 54-890 megahertz[1]. Kini gelombang TV juga sudah memancarkan jenis suara stereo ataupun bunyi keliling di banyak negara. Hingga tahun 2000,
siaran TV dipancarkan dalam bentuk gelombang analog, tetapi belakangan ini perusahaan siaran publik maupun
swasta kini beralih ke teknologi penyiaran digital.
Sebuah kotak televisi terdiri dari
bermacam-macam sirkuit elektronik didalamnya, termasuk di antaranya sirkuit penerima dan
penangkap gelombang penyiaran. Perangkat tampilan visual yang tidak memiliki
perangkat penerima sinyal biasanya disebut sebagai monitor, bukannya televisi. Sebuah sistem televisi dapat dipakai
dalam berbagai penggunaan teknologi seperti analog (PAL, NTSC, SECAM), digital (DVB, ATSC, ISDB dsb.)
ataupun definisi
tinggi (HDTV). Sistem televisi kini juga
digunakan untuk pengamatan suatu peristiwa, pengontrolan proses industri, dan
pengarahan senjata, terutama untuk tempat-tempat yang biasanya terlalu
berbahaya untuk diobservasi secara langsung.
Televisi amatir (ham TV atau ATV) digunakan untuk kegiatan
percobaan dan hiburan publik yang dijalankan oleh operator radio amatir. Stasiun TV amatir telah digunakan pada kawasan perkotaan
sebelum kemunculan stasiun TV komersial.
Televisi telah memainkan peran penting
dalam sosialisasi abad ke-20 dan ke-21. Pada tahun 2010, iPlayer digunakan dalam aspek media sosial dalam bentuk layanan televisi internet, termasuk di antaranya adalah Facebook dan Twitter.
Fungsi Televisi
Televisi mempunyai manfaat dan unsur
positif yang berguna bagi pemirsanya, baik manfaat yang bersifat kognitif,
afektif maupun psikomotor. Namun tergantung pada acara yang ditayangkan
televisi. Manfaat yang bersifat kognitif adalah yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan atau informasi dan keterampilan. Acara-acara yang bersifat kognitif
di antaranya berita, dialog, wawancara dan sebagainya. Manfaat yang kedua
adalah manfaat afektif, yakni yang berkaitan dengan sikap dan emosi.
Acara-acara yang biasanya memunculkan manfaat afektif ini adalah acara-acara
yang mendorong pada pemirsa agar memiliki kepekaan sosial, kepedulian sesama
manusia dan sebagainya. Adapun manfaat yang ketiga adalah manfaat yang bersifat
psikomotor, yaitu berkaitan dengan tindakan dan perilaku yang positif. Acara
ini dapat kita lihat dari film, sinetron, drama dan acara-acara yang lainnya
dengan syarat semuanya itu tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada di
Indonesia ataupun merusak akhlak pada anak. Maka secara umum, fungsi televisi
sama dengan fungsi media. Pendapat mengenai fungsi televisi ini pun beragam.
Akan tetapi secara umum ada lima fungsi televisi yaitu sebagai alat informasi,
media edukasi, fungsi kontrol serta menjadi media penghubung antar geografis.
1.
Alat Informasi
Makanan adalah kebutuhan
manusia yang paling dicari setiap makhluk yang hidup, termasuk manusia. Setiap
orang baik anak-anak, dewasa, orang tua, dan siapapun semuanya membututuhkan
makanan. Demi memenuhi kebutuhaan perutnya, semua orang rela bersusah
payah sekuat tenaga hanya untuk mendapatkan sebuah makanan. Bahkan tak hanya
satu kali dalam sehari mereka membutuhkan makanan, akan tetapi tiga kali dalam
sehari manusia membutuhkanya. Begitulah gambaran informasi. Kebutuhan manusia
akan informasi telah menjadikannya layaknya sebuah makanan. Bahkan ketika awal
mula manusia bangun dari tidurnya, secara spontan informasi pula yang muncul
dalam benaknya untuk segera mengetahui jam berapa saat ia terbangun.
Sederhananya, kebutuhan manusia akan informasi setidak-tidaknya informasi itu
sampai kepada mereka dari mulut ke mulut. Hal ini sudah menjadi sebuah
kebiasaan manusia sebagai makhluk sosial.
Seperti layaknya makanan tadi,
terkadang seseorang tak akan puas hanya sarapan dengan sepiring nasi dengan
lauk tempe. Kadang mereka menginginkan adanya pelengkap seperti sayur, susu,
buah-buahan, bahkan terkadang bagi mereka yang terbiasa berpola hidup glamour,
tak akan sudi memakan makanan yang murah seperti di angkringan misalnya,
Bagi orang dengan tingkat sosial dan pendidikan yang tinggi, kebutuhan dalam
mendapatkan informasi ini tentu berbeda dengan mereka yang hidupnmya pas-pasan.
Ada orang yang puas hanya mendapatkan informasi dari perkataan seseorang saja,
ada juga orang yang merasa hidupnya belum lengkap apabila belum membaca koran,
update berita di internet, ataupun menonton televisi.
Kehadiran televisi menjadi sangat
penting sebagai sarana hubungan interaksi antara yang satu dengan yang lain
dalam berbagai hal yang menyangkut perbedaan, dan persamaan persepsi tentang
suatu isu yang terjadi di belahan dunia ini. Dalam hal ini, massa kemudian
menjadi objek dari sebuah liputan di televisi. Informasi berkaitan dengan massa
kemudian diolah dalam proses olah data audio visual sebagai paket dari
pengemasan informasi. Kemudian ditransmisikan melalui sebuah pancaran digital
yang diterima masyarakat sebagai sumber informasi.
Sebagai alat informasi, dari segi
keefektiffitasan televisi tergolong media yang paling banyak peminatnya
dibandingkan dengan media yang lain. Ada beberapa hal yang menjadi keunikan
televisi dibandingkan dengan media yang lain yaitu: televisi tidak membutuhkan
kemampuan membaca seperti media cetak, tidak seperti film, televisi adalah
gratis, tidak seperti radio, televisi mengombinasikan gambar dan suara, tidak
membutuhkan mobilitas, seperti pergi ke bioskop misalnya, satu-satunya medium
yang pernah diciptakan yang tidak memiliki batasan usia artinya orang dapat
menggunakan dalam tahun-tahun awal dan akhir dari kehidupan mereka, dan juga
tahun-tahun diantaranya.Inilah kelebihan televisi dibanding dengan media yang
lain.
Akan tetapi di dalam kelebihan itu
pula terletak kekurangan yang diakibatkan dari media televisi sebagai alat
informasi ini. Misalnya, menurunkan minat baca masyarakat, terbukti dengan
adanya televisi disamping harganya yang relativ murah masyarakat lebih suka
menonton televisi daripada membaca Koran ataupun browsing di internet; sebagai
alat informasi, televisi lebih banyak menyajikan program hiburan daripada
informasi atau pendidikan; televisi terkadang mencontohkan secara langsung
hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan yang terkadang berlawanan dengan
kebudayaan Indonesia, akhirnya stabilitas nasional pun semakin terancam.
2.
Media Edukasi
Perkembangan zaman didunia
pendidikan yang terus berubah dengan signifikan, merubah pola pikir
pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut
sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Jika dahulu orang
ingin mempelajari sebuah ilmu pengetahuan, seseorang akan mendatangi sang guru
dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya secara langsung. Berbeda dengan
konteks yang ada di jaman sekarang. Kehebatan media mampu mengambil alih peran guru
dalam dunia pendidikan. Hampir segala bidang terkait dengan keilmuan bisa kita
dapatkan dimana-mana melalui media, terlepas masalah penanggung jawab keilmuan
yang disampaikanya. Sehingga banyak upaya yang diusahakan dalam peningkatan
mutu pendidikan adalah pengembangan media pendidikan. Jadi, yang dimaksud
dengan media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam
rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa
dalam proses pendidikan.
Julius Lende (2012) dalam artikelnya
yang mengutip dari Hamalik (1989) mengatakan ciri-ciri umum dari media
pendidikan adalah sebagai berikut:
a.
Media pendidikan identik artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari
kata “raga”, artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan yang
dapat diamati melalui panca indera kita,
b.
Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang bisa dilihat dan didengar,
c. Media pendidikan digunakan dalam rangka
hubungan komunikasi dalam pengajaran,
d.
Media pendidikan adalah alat bantu mengajar, baik di luar kelas
e.
Berdasarkan (c) dan (d), maka pada dasarnya media pendidikan merupakan suatu
“perantara” (medium, media) dan digunakan dalam rangka pendidikan,
f.
Media pendidikan mengandung aspek; sebagai alat dan sebagai teknik, yang sangat
erat pertaliannya dengan metode mengajar.
Dari uraian tentang ciri-ciri media
pendidikan seperti yang telah disebutkan di atas, maka dapat saya katakan bahwa
Televisi merupakan media pendidikan yang sangat modern dan sangat cocok dalam
usaha peningkatan mutu pendidikan.
Julius Lende (2012) dengan
artikelnya yang mengutip dari Hamalik (1989), nilai atau manfaat media
pendidikan adalah sebagai berikut:
a.
Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi
“verbalisme”,
b.
Memperbesar perhatian para siswa,
c.
Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu
membuat pelajaran lebih mantap,
d.
Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha
sendiri di kalangan siswa
e.
Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinou, hal ini terutama dapat dalam
gambar hidup
f.
Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu perkembangan kemampuan
berbahasa,
g.
Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain
serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keragaman yang
lebih banyak dalam belajar.
Dengan demikian tolak ukur sudut
pandang media pendidikan terhadap tayangan di televisi dipandang sebagai salah
satu media pendidikan, dengan catatan apabila tayangan tersebut dapat
memberikan informasi yang berkualitas dan memiliki nilai pendidikan moral dan
ilmu pengetahuan.
3.
Kontrol Sosial
Dalam konteks televisi sebgai kontol
sosial, setidaknya televisi mempunyai sebuah fungsi sebagai gambaran kehidupan
sosial dalam suatu negara. Dalam hal ini maka televisi berperan sebagai minatur
sebuah negara. Melalui televisi itulah seseorang dapat mengetahui bagaimana
sebuah sistem kehidupan sosial itu diciptakan. Untuk lebih konkritnya, sebuah
kenyataan ini bisa kita lihat misalnya ketika kita membandingkan sebuah produk
film asli Indonesia dengan produk film yang diproduksi oleh negara lain, dari
situ kita bisa melihat perbedaan yang sangat menonjol. Faktor kemajuan sebuah
negara akan sangat terlihat dalam sebuah produksi perfileman. Contohnya saja
kita bisa membandingkan film yang hingga sekarang masih mendominasi kancah
layar kaca Indonesia adalah film yang berbau mistis, percintaan, hingga
pertikaian perebutan warisan. Hal ini akan sangat berbeda jika kita bandingkan
dengan produksi yang ada di negara yang lebih maju. India misalnya, sekitar
lima hingga sepuluh tahun yang lalu, hampir setiap film yang disajikan di India
ini mengangkat film yang bertemakan percintaan yang identik dengan
tarian-tarian khas masalnya. Tetapi di era saat ini, seiring dengan kemajuan
teknologi yang semakin pesat yang dialami oleh negara India, sekarang telah
diproduksi film yang lebih mengangkat kepada tema tekhnologi seperti film Ra
One misalnya. Itulah realita yang ada dalam layar kaca sebagai sebuah gambaran
tentang kondisi soasial sebuah negara.
Selain kita melihat dengan konteks
di atas, peran media dalam kaitan fungsinya sebagai kontrol sosial juga bisa
kita lihat dengan aspek yang lain. Sebagai media yang memungkinkan mudahnya
teraksesnya informasi, maka sangat memungkinkan adanya pertukaran informasi
antar masyarakat, etnis, ataupun segala macam kebudayaan. Sehingga secara
social masyarakat dapat saling memperhatikan satu sama lain demi terciptanya
stabilitas social dalam sebuah Negara. Bahkan seiring dengan teknologi pemancar
televisi yang semakin canggih hingga akses televisi seperti sekarang ini tak
hanya kita nikmati dalam skala nasional saja akan tetapi internasional. Denga
demikian, pertukaran informasi dalam lingkup internasional ini akan membawa
dampak yang penting bagi kelangsungan hubungan diplomasi antar negara. Sebagai
fungsi ini, peran televise tak dapat terelakkan. Misalnya adalah, ketika
terjadi sebuah bencana, maka secara spontan semua masyarakat akan tahu, bahkan
hal itu akan sangat memungkinkan untuk mendapatkan simpati dari Negara lain.
Tentunya melalui televise. Maka secara tanggap pula bantuan logistic untuk daerah
yang tertimpa musibah akan segera berdatangan dari negara-negara tetangga
misalnya.
Selain itu, apabila kia menelaah
lebih dalam, di dalam konteks ini kita mengetahui bahwa fungsi kontrol sosial
ini pun apabila kita sesuaikan dengan falsafah ideologi bangsa Indonesia yang
tertera pada Pancasila, maka fungsi ini sangat sesuai dengan sila ke-5 dari
pancasila yang berbunyi, “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bagi
pemerintah, hal ini juga tak kalah pentingnya. Sebagai pihak yang mengurusi kepentingan
rakyat, maka sebagai pemerintah yang baik tak akan ketinggalan informasi yang
ada di negaranya. Kemudian secara tanggap tugas-tugas yang seharusnya dilakukan
oleh pemerintah dapat terkonsep dn terlaksana dengan baik. Sebagai fungsi
kontrol sosial ini pula maka akan tercipta sebuah transparasi pemerintahan yang
secara terbuka sejak era reformasi ini seluruh lapisan masyarakat bisa
mengetahui jalanya pemerintahan sehingga melalui media pula kasus korupsi yang
terjadi di Indonesia ini satu per satu semakin terungkap.
4.
Fungsi hiburan
Sekarang ini, Indonesia sedang dalam
era pancaroba, dimana ketika memasuki gerbang zaman globalisasi yaitu masa
dimana segala bidang kehidupan berada diambang tinggal landas seiring dengan
pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini tidak
mengecualikan kemajuan yang begitu pesat dalam berbagai bidang termasuk salah
satunya industri hiburan, apalagi hal ini salah satunya dipicu oleh ambisi
mengejar rating di hati masyarakat.
Tidak seperti zaman nenek moyang
dahulu, masyarakat kita sekarang ini disuguhi berbagai macam media hiburan dari
panggung hiburan hingga media yang lebih bersifat personal seperti televisi.
Jika jaman dahulu sebelum tiba masa trend televisi masyarakat lebih mencari
kegiatan hiburan secara langsung dengan pertunjukan misalnya seperti ketoprak,
wayang dan lain sebagainya, namun lain halnya dengan sekarang dimana masyarakat
lebih dimanjakan dengan media hiburan yang ada di televisi. Hadirnya televisi
di tengah hiruk pikuk kehidupan ini dapat membangkitkan gairah masyarakat mulai
dari perkotaan hingga pelosok-pelosok desa. Apalagi sekarang stasiun-stasiun
televisi swasta banyak bermunculan mewarnai layar kaca dengan suguhan-suguhan
yang lebih memanjakan pemirsa terutama dengan sajian hiburanya. Bahkan setiap
pengelolanya berebut “prime time “(waktu tayang terbaik) demi mendapat tempat
spesial di hati pemirsanya.
Memang hadirnya televisi pada sebuah
rumah tangga bukan menjadi kebutuhan mewah lagi. Hal ini terbukti bahwa yang
dulunya televisi hanya bisa dinikmati kaum elite saja, namun sekarang rakyat
jelata pun juga memiliki televisi. Jadi televisi merupakan media entertainment
yang sudah merakyat dan digandrungi berbagai kalangan. Fugsi media yang satu
ini, hampir semua masyarakat tahu bahwa televise berfungsi sebagai hiburan.
Kenyataan ini memang benar.bisa kita amati hamper di semua stasiun televise tak
ada yang meninggalkan sebuah program yang sifatnya hiburan. Bahkan sebuah acara
berita sebagai fungsi informasi saja sekarang telah banyak media yang membuat
konsep acara berita seperti komedi. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia
lebih menikmati keberadaan media sebagai media hiburan dibandingkan dengan
fungsi yang lain.
5.
Media penghubung secara geografis
Dahulu, jika seseorang ingin pergi
ke sebuah tempat yang ia inginkan, maka ia harus menempuh suatu perjalanan
dengan kaki maupun dengan perjalanan kuda yang tak sedikit memakan waktu
berhari-hari bahkan mungkin hingga berbulan-bulan. Kenyataan yang telah berubah
sedemikian cepatnya seperti yang terjadi saat ini, untuk menempuh sebuah
perjalanan dengan lingkup yang luas sekalipun, bahkan ke seluruh penjuru dunia
yang ia inginkan, hanya dengan hitungan beberapa jam saja ia sudah sampai ke
tempat tujuan tersebut dengan fisik tubuh yang menyertainya. Apalagi sebuah
komponen data yang sangat lembut yang secara fisik tidak bisa kita lihat,
seperti halnya sebuah sinyal yang membawa informasi, dalam hitungan menit
bahkan detik, informasi yang kita kirimkan sudah bisa diketahui oleh pihak yang
kita tuju. Inlah kecanggihan teknologi yang semakin hari semakin pesat sehingga
waktu yang lama terasa semakin cepat, sebuah wilayah yang luas semakin terasa
sempit. Segala pekerjaan manusia semakin mudah untuk dilakukan. Semakin mudah
untuk diselesaikan dengan teknologi.
Marshall McLuhan dengan teorinya
yang desebut sebagai teori ekologi media membuat sebuah asumsi bahwa, media
melingkupi setiap tindakan di dalam
masyarakat, media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman
kita, media menyatukan seluruh dunia, kemudian dikenal dengan istilah “desa
global” yaitu sebuah Pemikiran bahwa manusia tidak lagi dapat hidup dalam
isolasi melainkan akan selalu terhubung oleh media elektronik yang bersifat
instan dan berkesinambungan. Disinilah kemudian secara geografis sebuah dunia
yang luas akhirnya dengan perantaraan televise sebagai media penghubung
menjadikan dunia layaknya hanya sebuah lingkup kecil desa yang semua orang
dapat mengakses informasi ke seluruh penjuru dunia dengan televisi.
Penutup
Peran besar televisi sebagai media
yang sangat berpegaruh terhadap kehidupan masyarakat seharusnya selalu
memperhatikan segala aspek kepentingan yang sesui dengan peraturan yang telah
ditetapkan. Industrialisasi dalam sebuah media seharusnya jangan menjadi
prioritas awal dalam menempatkan tujuanya. Generasi bangsa seharusnya
dipertahankan jangan sampai mereka teracuni dengan hadirnya media.fungsi
televisi yang seharusnya harus segera dikembalikan sebagai hak masyarakat
pengonsumsi media.
Hal itu terbukti bahwa, berbagai
paket acara untuk memanjakan pemirsanya mulai dari sinetron, film, tayangan
berita maupun reality show selalu ditampilkan eksklusif oleh pihak pengelola
televisi. Disini, pihak televisi menayangkannya hanya bertolak dari segi
entertainment atau bahkan hanya bertolak dari segi bisnis di dunia hiburan.
Dari kesemuanya itu mereka hanya berusaha menghadirkan hiburan-hiburan segar
yang dapat menghilangkan kepenatan setelah beraktivitas tanpa ada maksud untuk
meracuni pemirsanya dengan” black list” tayangan tersebut. Namun demikian,
secara ekspisit maupun inplinsit mereka tidak menyadari telah menyisipkan
gambaran kekerasan, kriminalitas, pornografi dan pornoaksi maupun western
culture yang kadang bertentangan dengan adat ketimuran yang selalu kita
junjung. Titik-titik hitam inilah yang terkadang lebih mudah mengendap di benak
anak-anak. Contoh riilnya dapat kita lihat dari kerentanan emosi anak-anak
dalam penyelesaian masalah dengan temannya seperti dalam kalimat, “Awas kalau
macam-macam akan saya smack down kamu!”. Mereka akan lebih memilih jalan
kekerasan seperti gelagat jagoan-jagoan yang beraksi di layar televisi seperti
yang mereka tonton. Sebagaimana hasil audio-visualisasi mereka akan
melakukannya dalam kehidupan nyata seperti kasus yang menimpa Raju-Armansyah
pada 31Agustus 2005 lalu. Tak ayal pula televisi sering dijadikan kambing hitam
terhadap kasus-kasus seperti ini
Disinilah, saya mengetuk nurani
pihak pengelola televisi agar turut sebagai penyukses program mencerdarkan
bangsa mengingat televisi tidak hanya sebagai media hiburan namun juga sebagai
media pendidik. Demi pencapaian hal itu, tentu saja pengelola televisi bekerja
sama dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan Lembaga Sensor untuk turut ambil
bagian dalam memerangi racun mematikan televisi, apalagi jika RUU Anti
Pornografi dan Pornoaksi benar akan disahkan, tidak salah lagi filter noda
hitam televisi di negara kita akan lebih solid karena telah memiliki kaidah
berpayung hukum yang jelas.
Oleh karena itu, marilah kita
manfaatkan momentum ini untuk bersama-sama memperbaiki diri! Maka dari itu,
akar permasalahannya bukanlah siapa yang berkuasa, siapa yang salah dan harus
mempertanggungjawabkannya, siapa mengatur siapa. Namun permasalahannya adalah
hal ini merupakan tanggung jawab semua pihak, apalagi dengan Demokrasi
Pancasila di Indonesia setiap kebebasan harus bertanggung jawab. Maka dari itu,
semua pihak harus segera melakukan koreksi terhadap kesalahan itu. Berangkat
dari hal ini, secara bersama-sama mari kita mengkaji ulang tayangan di televisi
dan mencari langkah terbaik untuk menyajikan televisi yang bukan hanya sebagai
sarana hiburan, melainkan juga sarat akan misi mencerdaskan dan mencerahkan
bangsa!
Karakteristik Televisi Media televisi memiliki berbagai karakteristik yang
membedakannya dengan media massa lainnya yaitu audiovisual, berpikir dalam
gambar, dan pengoperasian yang lebih kompleks. Karakteristik media televisi
juga dapat dilihat dari televisi sebagai media komunikasi, televisi sebagai
media elektronik, dan televisi sebagai
media audiovisual
(Elvinaro dan Lukiati Komala, 2007:128, komunikasi massa suatu pengantar).
Ditinjau dari stimulasi alat indra, dalam radio siaran, surat kabar dan
majalah,
hanya satu alat indra
yang mendapat stimulus. Berikut
beberapa karakteristik televisi:
(1) Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat didengar
sekaligus dapat dilihat (audiovisual). Jadi apabila khalayak radio siaran hanya
mendengar kata- kata, musik, dan efek suara, maka khalayak televisi dapat
melihat gambaryang bergerak.
(2) Berfikir dalam
gambar
Pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran acara
televisi adalah pengarah acara. Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses
berpikir dalam gambar. Pertama adalah visualisasi, dalam proses ini pengarah
acara merangkai agar gambar memiliki makna. Tahap kedua adalah
penggambaran, yaitu merangkai gambar sedemikian rupa
sehingga mempunyai kontinuitas danmengandung makna tertentu.
KARAKTERISTIK
TELEVISI
1.
Bersifat Tidak Langsung
Televisi
adalah satu jenis dan bentuk media massa yang paling danggih dilihat dari sisi
teknologi yang digunakan, dan paling mahal dilihat dari segi investasi yang
ditanamkan. Televisi sangat bergantung pada kekuatan peralatan elektronik yang
sangat rumit. Inilah yang disebut media teknis. Sebagai contoh, tanpa listrik,
siaran televisi tak mungkin bisa diudarakan dan diterima pemirsa di mana pun.
Investasi yang harus ddikeluarkan untuk mendirikan erbuah stasiun televisi
komersial, yang dikelola secara professional dengan lingkup nasional, mencapai
ratusan miliar rupiah.
Sifat padat
teknologi dan padat modal inilah yang menyebabkan televisi sangat kompromistik
dengan kepentingan pemilik modal serta nilai-nilai komersial arus kapitalisme
global. Salah satu eksesnya, bahasa televisi tidak jarang tampil vulgat. Sarat
dengan dimrnsi kekerasan dan sadism, atau bahkan terjebak dalam eksploitasi
seks secara vulgar. Kecaman demi kecaman pun terus mengalir dari public yang
peduli masa depan bangsa.
2.
Bersifat Satu Arah
Siaran
televisi bersifat satu arah. Kita sebagai pemirsa hanya bisa menerima berbagai
program acara yang sudah dipersiapkan oleh pihgak pengelola televisi. Kita
tidak bisa menyela, melakukan interupsi saat itu agar suatu acara disiarkan
atau tidak disiarkan.
Menurut
teori komunikasi massa, kita sebagai khalayak televisi bersifat aktif dan
selektif. Jadi meskipun siaran televisi bersifat satu arah, tidak berarti kita
pun menjadi pasif. Kita aktif mencari acara yang kiya inginkan. Kita selektif untuk
tidak menonton semua acara yang ditayangkan. Tetapi kehadiran alat ini pun,
tidak serta-merta mengurangi tingkat kecemasan masyarakat, terutama kalangan
pendidik, budayawan, dan agamawan.
3.
Bersifat Terbuka
Televisi
ditujukan kepada masyarakat secara terbuka ke berbagai tempat yang dapat
dijangkau oleh daya pancar siarannya. Artinya, ketika siaran televisi
mengudara, tidak ada lagi apa yang disebut pembatasan letak geografis, usia
biologis, dan bahkan tingkatan akademis khalayak. Siapa pun dapat mengakses
siaran televisi. Di sini khalayak televisi bersifat anonym dan heterogen.
Karena
bersifat terbuka, upaya yang dapat dilakukan para pengelola televisi untuk
mengurangi ekses yang timbul adalah mengatur jam tayang acara.
4.
Publik Terseber
Khalayak
televisi tidak berada di suatu wilayah, tetapi terserbar di berbagai wilayah
dalam lingkup local, regional, nasional, dan bahkan internasional. Kini, di
Indonesia tumbuh subur stasiun televisi local yang siarannya hanya menjangkau
suatu kota, atau paling luas beberapa kota dalam radius puluhan km saja dari
pusat kota yang menjadi fokus wilayah siarannya itu. Di Bandung saja, terdapat
tiga stasiun televisi lokal. Dalam perspektif komersial, publik tersebar sangat
menguntunkan bagi para pemasang iklan. Untuk televisi komersial, iklan adalah
darah dan urat nadi hidupnya.
5.
Bersifat Selintas
Pesan-pesan televisi hanya dapat
dilihat dan didengar secara sepintas siarannya tidak dapat dilihat dan dedengar
ulang oleh pemirsa kecuali dalam hal-hal khusus seperti pada adegan ulang
sercara lambat, atau dengan alat khusus seperti perekam video cassette recorder (VCR). Sifatnya yang hanya dapat dilihat
sepintas ini, sangat memengaruhi cara-cara penyampaian pesan. Selain harus
menarik, bahasa pesan yang disampaikan televisi harus mudah dimengerti dan
dicerna oleh khalayak pemirsa tanpa menimbulkan kebosanan (Wahyudi, 1986:3-4).
Televisi adalah sebuah media
telekomunikasi terkenal yang digunakan untuk memancarkan dan menerima siaran
gambar bergerak, baik itu yang monokrom (“hitam putih”) maupun warna, biasanya
dilengkapi oleh suara. Menurut Oemar Hamalik (1985:134) mengemukakan bahwa
televisi sesungguhnya adalah perlengkapan elektronik, yang pada dasarnya sama
dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara[1].
Televisi pendidikan adalah sebuah stasiun televisi di Indonesia yang khusus
ditujukan untuk menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan sebagai media
pendidikan pembelajaran masyarakat.
Media televisi tidak hanya mengajarkan tingkah laku dan juga tindakan sebagai
stimulus membangkikan tingkah laku untuk dipelajari dari sumber-sumber lain.
Ini menunjukkan bahwa media televisi memiliki kekuatan yang ampuh (powerfull)
bagi permirsanya, termasuk untuk keperluan pendidikan. Televisi pendidikan
Indonesia ini di selenggarakan dengan dorongan semangnat untuk membantu
mencerdaskan kehidupan bangsa, serta untuk membantu mewujudkan hak semua warga
negara Indonesia untuk memperoleh pengajaran.
Manfaat dan Tujuan Televisi Pendidikan
Televisi pendidikan Indonesia ini di selenggarakan dengan dorongan semangat
dengan tujuan untuk:
1.
Membantu mencerdaskan kehidupan bangsa,
2.
Membantu mewujudkan hak semua warga negara Indonesia untuk memperoleh
pengajaran,
3.
Mempunyai misi untuk mewujudkan manusia – manusia pembangunan yang dapat
membangun dirinya sendiri serta bersama – sama bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa,
Sedangkan
manfaat dengan adanya televisi pendidikan antara lain :
1.
Televisi dapat memberikan kejadian – kejadian yang sebenarnya pada saat suatu
peristiwa terjadi dengan di sertai komentar penyiarnya,
2.
Televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk peran serta masyarakat,
3.
Televisi dengan gambar audio visual sangat membantu dalam mengembangkan daya
kreasi,
4.
Menyebarkan informasi di bidang pendidikan dan berfungsi sebagai media
pembelajaran masyrakat,
5.
Memberikan pesan yang dapat diteima secara lebih merata oleh peserta didik
6.
Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses,
7.
Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu,
8.
Lebih realistis, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan,
9.
Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap peserta didik
Video Sebagai Media Pembelajaran
1.
Pengertian Video
Video
sebenarnya berasal dari bahasa Latin, video-vidi-visum yang artinya melihat
(mempunyai daya penglihatan); dapat melihat[1]. Video adalah: 1) bagian yang
memancarkan gambar pada pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk
ditayangkan pada pesawat televisi[2]. Senada dengan itu, video juga berarti
sesuatu yang berkenaan dengan penerimaan dan pemancaran gambar[3]. Tidak jauh
berbeda dengan dua definisi tersebut, video merupakan “the storage of visuals
and their display on television-type screen” (penyimpanan/perekaman gambar dan
penanyangannya pada layar televisi)[4].
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi.
Karenanya, banyak orang yang memahami video dalam dua pengertian:
1. sebagai rekaman gambar hidup yang ditayangkan (di sini video sama dengan film, dan pada makalah ini penyebutan video seringkali dipakai bergantian dengan film). Aplikasi umum dari video adalah televisi atau media proyektor lainnya; dan
2. sebagai teknologi, yaitu teknologi pemrosesan sinyal elektronik mewakilkan gambar bergerak. Di sini istilah video juga digunakan sebagai singkatan dari videotape, dan juga perekam video dan pemutar video[5].
Video, dilihat sebagai media penyampai pesan, termasuk media audio-visual atau media pandang-dengar[6].
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi.
Karenanya, banyak orang yang memahami video dalam dua pengertian:
1. sebagai rekaman gambar hidup yang ditayangkan (di sini video sama dengan film, dan pada makalah ini penyebutan video seringkali dipakai bergantian dengan film). Aplikasi umum dari video adalah televisi atau media proyektor lainnya; dan
2. sebagai teknologi, yaitu teknologi pemrosesan sinyal elektronik mewakilkan gambar bergerak. Di sini istilah video juga digunakan sebagai singkatan dari videotape, dan juga perekam video dan pemutar video[5].
Video, dilihat sebagai media penyampai pesan, termasuk media audio-visual atau media pandang-dengar[6].
2. Kelebihan dan Kekurangan Media Video Pembelajaran
Ada banyak kelebihan video ketika digunakan sebagai media pembelajaran di antaranya. Video merupakan media yang cocok untuk pelbagai media pembelajaran, seperti kelas, kelompok kecil, bahkan satu siswa seorang diri sekalipun[7]. Hal itu, tidak dapat dilepaskan dari kondisi para siswa saat ini yang tumbuh berkembang dalam dekapan budaya televisi, di mana paling tidak setiap 30 menit menayangkan program yang berbeda. Dari itu, video dengan durasi yang hanya beberapa menit mampu memberikan keluwesan lebih bagi guru dan dapat mengarahkan pembelajaran secara langsung pada kebutuhan siswa.
Selain itu, menurut Smaldino sendiri, pembelajaran dengan video multi-suara bisa ditujukan bagi beragam tipe pebelajar. Teks bisa di display dalam aneka bahasa untuk menjelaskan isi video. Beberapa DVD bahkan menawarkan kemampuan memperlihatkan suatu objek dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Disc juga memberikan fasilitas indeks pencarian melalui judul, topik, jejak atau kode-waktu untuk pencarian yang lebih cepat.
Video juga bisa dimanfaatkan untuk hampir semua topik, tipe pebelajar, dan setiap ranah: kognitif, afektif, psikomotorik, dan interpersonal. Pada ranah kognitif, pebelajar bisa mengobservasi rekreasi dramatis dari kejadian sejarah masa lalu dan rekaman aktual dari peristiwa terkini, karena unsur warna, suara dan gerak di sini mampu membuat karakter berasa lebih hidup. Selain itu menonton video, setelah atau sebelum membaca, dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi ajar.
Pada ranah afektif, video dapat memperkuat siswa dalam merasakan unsur emosi dan penyikapan dari pembelajaran yang efektif. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari potensi emosional impact yang dimiliki oleh video, di mana ia mampu secara langsung sampai kepada sisi penyikapan personal dan sosial siswa. Membuat mereka tertawa terbahak-bahak (atau hanya tersenyum) karena gembira, atau sebaliknya menangis berurai air mata karena sedih. Dan lebih dari itu, menggiring mereka pada penyikapan seperti menolak ketidakadilan, atau sebaliknya pemihakan kepada yang tertindas.
Pada ranah psikomotorik, video memiliki keunggulan dalam memperlihatkan bagaimana sesuatu bekerja. Video pembelajaran yang merekam kegiatan motorik siswa juga memberikan kesempatan pada mereka untuk mengamati dan mengevaluasi kerja praktikum mereka, baik secara pribadi maupun feedback dari teman-temannya.
Sedangkan pada ranah meningkatkan kompetensi interpersonal, video memberikan kesempatan pada mereka untuk mendiskusikan apa yang telah mereka saksikan secara berjama’ah. Misalnya tentang resolusi konflik dan hubungan antar sesama, mereka bisa saling mengobservasi dan menganalisis sebelum menyaksikan tayangan video.
Lebih dari itu, manfaat dan karakteristik lain dari media video atau film dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran, di antaranya adalah:
· Mengatasi jarak dan waktu
· Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat
· Dapat membawa siswa berpetualang dari negara satu ke negara lainnya, dan dari masa yang satu ke masa yang lain.
· Dapat diulang-ulang bila perlu untuk menambah kejelasan
· Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.
· Megembangkan pikiran dan pendapat para siswa
· Mengembangkan imajinasi
· Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistik
· Mampu berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan realitas sosial yang akan dibedah di dalam kelas
· Mampu berperan sebagai storyteller yang dapat memancing kreativitas peserta didik dalam mengekspresikan gagasannya[8].
Selain kelebihan, video/film juga memiliki kekurangan, di antaranya: sebagaimana media audio-visual yang lain, video juga terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses pengembangan materi tersebut; pemanfaatan media ini juga terkesan memakan biaya tidak murah, terutama bagi guru, maaf, dengan gaji pas-pasan di negeri ini; dan penanyangannya juga terkait peralatan lainnya seperi video player, layar bagi kelas besar beserta LCDnya, dan lain-lain.
3. Piranti Video
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, video merupakan teknologi pemrosesan sinyal elektronik yang meliputi gambar gerak dan suara. Piranti yang berkaitan dengan video adalah playback, storage media (seperti pita magnetik dan disc), dan monitor. Nah, agar mampu memanfaatkan video sebagai alternatif media untuk pembelajaran, ada baiknya kita mengetahui piranti media video ini, di antaranya:
1. Video Pita Magnetik (Video Tape Recorder [VTR], Video Cassette Recorder [VCR], dan Mini-DV)
2. Video Disc, Video Compact Disc (VCD) Digital Video/Versatile Disc (DVD)
3. Handycam, camera.
4. Prinsip-prinsip Video sebagai Media Pembelajaran
Adapun prinsip yang harus diperhatikan adalah:
Adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media, untuk siapa, dipakai dimana, keperluan apa dan lain sebagaina.
Familiaritas media, pengguna media harus mengenal sifat dan ciri-ciri media yang akan dipilih.
Media pembanding, hal ini diperlukan untuk memberikan alternatif pertimbangan dalam rangka mengambil kepurusan yang tepat tentang media ang akan dipergunakan,
Adanya norma atau patokan yang akan dipakai dan dikenakan pada proses pemilihan[9].
Untuk mengetahui prinsip dari media video kita harus perhatikan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
Apakah materinya penting dan berguna bagi siswa ?
Apakah dapat menarik minat siswa untuk belajar ?
Apakah ada kaitan yang mengena dan langsung dengan tujuan khusus yang hendak dicapai ?
Bagaimana format penyajiannya diatur? Apakah memenuhi sekuens atau tata urutan belajar yang logis ?
Apakah materi yang disajikannya mutakhir dan otentik ?
Apakah konsep dan faktanya terjamin kecermatannya ?
Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar ?
Bila tidak, apakah ada keseimbangan kontroversial ?
Apakah pandangannya objektif dan tidak mengandung unsur propaganda dan sebagainya?
Apakah memenuhi standar kualitas teknis ? (Gambar, Narasi, Efek, Warna, dan sebagainya)
Apakah struktur materinya direncanakan dengan baik oleh produsennya ?
Apakah sudah dimantapkan melalui proses uji coba atau validasi ? Oleh siapa, kondisinya, karakteristik sasarannya, dan sejauh mana hal tersebut berhasil ?[10]
Dengan mempertimbangkan beberapa kondisi di atas, maka diharapkan, media yang dipilih akan bisa dipergunakan secara maksimal mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.
5. Membuat media Video sederhana
Bila kita ingin menggunakan media video untuk pembelajaran, akan lebih baik kalau kita memproduksinya sendiri, karena sebagai pengajar, kitalah yang mengerti topik dan ranah kompetensi yang dituju, sehingga media video sesuai dengan yang diinginkan. Adapun cara membuat video sederhana adalah sebagai berikut:
Tentukan tema pembelajaran.
Sediakan hardware seperti video camera, sertakan dengan media penyimpanan seperti CDR, DVD, USB untuk transfer video ke computer dan Laptop/Notebook, yang nantinya digunakan untuk editing video yang sudah direkam.
Rekam gambar dengan camerecorder.
Berikutnya seting kamera pada mode Play, kemudian hubungkan kamera ke komputer menggunakan USB. Pastikan komputer telah mendeteksi kamera yang kita sambungkan.
Gunakan aplikasi video editing seperti Windows Movie Maker untuk melakukan pengolahan video[11].
Memilih
Format Berita TV
Berita di
media televisi dapat disampaikan dalam berbagai format. Untuk menentukan format
mana yang akan dipilih, tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor itu
antara lain:
- Ketersediaan
gambar. Jika gambar yang dimiliki sangat terbatas,
reporter sulit menulis naskah berita yang panjang. Maka berita dibuat
dalam format lebih singkat dan padat, atau dibuat dalam format tanpa
gambar sama sekali.
- Momen
terjadinya peristiwa atau perkembangan peristiwa yang akan diberitakan.
Perkembangan terkini dari suatu peristiwa baru sampai ke produser, ketika
siaran berita sedang berlangsung. Sedangkan perkembangan itu terlalu
penting untuk diabaikan. Jika ditunda terlalu lama, perkembangan terbaru
pun menjadi basi, atau stasiun TV lain (kompetitor) akan menayangkannya
terlebih dahulu.
Format-format
Berita
Format-format
berita itu antara lain:
- Reader
Ini adalah
format berita TV yang paling sederhana, hanya berupa lead in yang dibaca
presenter. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar ataupun grafik. Hal ini
dapat terjadi karena naskah berita dibuat begitu dekat dengan saat deadline,
dan tidak sempat dipadukan dengan gambar.
Bisa juga,
karena perkembangan peristiwa baru sampai ke tangan redaksi, ketika siaran
berita sedang berlangsung. Maka perkembangan terbaru ini pun disisipkan di
tengah program siaran. Beritanya dapat berhubungan atau tidak berhubungan
dengan berita yang sedang ditayangkan. Reader biasanya sangat singkat.
Durasi maksimalnya 30 detik.
- Voice
Over (VO)
Voice Over (VO) adalah
format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh presenter
seluruhnya. Ketika presenter membaca tubuh berita, gambar pun disisipkan sesuai
dengan konteks isi narasi.
- Natsound
(natural sound, suara lingkungan)
Natsound
(natural sound, suara lingkungan) yang terekam dalam gambar bisa dihilangkan. Tetapi,
biasanya natsound tetap dipertahankan, untuk membangun suasana dari peristiwa
yang diberitakan. Sebelum menulis naskah berita, tentu Reporter harus melihat
dulu gambar yang sudah diperoleh, karena tetap saja narasi yang ditulis harus
cocok dengan visual yang ditayangkan. VO durasinya sangat singkat (20-30
detik).
- Voice
Over – Grafik
VO-Grafik
adalah format berita TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan oleh
presenter seluruhnya. Namun, ketika presenter membaca tubuh berita, tidak ada
gambar yang menyertainya kecuali hanya grafik atau tulisan. Hal ini mungkin
terpaksa dilakukan karena peristiwa yang diliput sedang berlangsung dan redaksi
belum menerima kiriman gambar peliputan yang bisa ditayangkan.
- Sound
on Tape (SOT)
Sound on
Tape (SOT)
adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan soundbite dari
narasumber. Presenter hanya membacakan lead in berita, kemudian disusul oleh
pernyataan narasumber (soundbite).
Format
berita ini dipilih jika pernyataan narasumber dianggap lebih penting
ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi. Pernyataan yang dipilih untuk
SOT sebaiknya yang amat penting atau dramatis, bukan yang datar-datar saja.
Format SOT ini bisa bersifat sebagai pelengkap dari berita yang baru saja
ditayangkan sebelumnya, atau bisa juga berdiri sendiri. Durasi SOT disesuaikan
dengan kebutuhan, tapi biasanya maksimal satu menit.
- Voice
Over – Sound on Tape (VO-SOT)
VO-SOT
adalah format berita TV yang memadukan voice over (VO) dan sound on
tape (SOT). Leadin dan isi tubuh berita dibacakan presenter. Lalu di akhir
berita dimunculkan soundbite dari narasumber sebagai pelengkap dari
berita yang telah dibacakan sebelumnya. Format VO-SOT dipilih jika gambar yang
ada kurang menarik atau kurang dramatis, namun ada pernyataan narasumber yang
perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita. Total durasi
diharapkan tak lebih dari 60 detik, di mana sekitar 40 detik untuk VO dan 20
detik untuk soundbite.
- Package
(PKG)
Package adalah
format berita TV yang hanya lead in-nya yang dibacakan oleh presenter, tetapi
isi berita merupakan paket terpisah, yang ditayangkan begitu presenter selesai
membaca lead in. Paket berita sudah dikemas jadi satu kesatuan yang utuh dan
serasi antara gambar, narasi, soundbite, dan bahkan grafis. Lazimnya
tubuh berita ditutup dengan narasi.
Format ini
dipilih jika data yang diperoleh sudah lengkap, juga gambarnya dianggap cukup
menarik dan dramatis. Kalau dirasa penting, reporter dapat muncul dalam paket
berita tersebut (stand up) pada awal atau akhir berita. Durasi maksimal
total sekitar 2 menit 30 detik.
- Live on
Cam.
Live on Cam adalah
format berita TV yang disiarkan langsung dari lapangan atau lokasi peliputan.
Sebelum reporter di lapangan menyampaikan laporan, presenter lebih dulu
membacakan lead in dan kemudian ia memanggil reporter, di lapangan untuk
menyampaikan hasil liputannya secara lengkap. Laporan ini juga bisa disisipi
gambar yang relevan.
Karena
siaran langsung memerlukan biaya telekomunikasi yang mahal, tidak semua berita
perlu disiarkan secara langsung. Format ini dipilih jika nilai beritanya amat
penting, luar biasa, dan peristiwanya masih berlangsung. Jika peristiwanya
sudah berlangsung, perlu ada bukti-bukti yang ditunjukkan langsung kepada
pemirsa. Durasinya disesuaikan dengan kebutuhan.
- Live on
Tape (LOT)
Live on Tape adalah
format berita TV yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun
siarannya ditunda (delay). Jadi, reporter merekam dan menyusun
laporannya di tempat peliputan, dan penyiarannya baru dilakukan kemudian.
Format
berita ini dipilih untuk menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa.
Namun, siaran tak bisa dilakukan secara langsung karena pertimbangan teknis dan
biaya. Meski siarannya ditunda, aktualitas tetap harus terjaga. Durasi bisa
disesuaikan dengan kebutuhan, namun biasanya lebih singkat dari format Live
on Cam.
- Live by
Phone
Live by
Phone adalah
format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan
menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan presenter, dan kemudian
ia memanggil reporter yang ada di lapangan untuk menyampaikan laporannya. Wajah
reporter dan peta lokasi peristiwa biasanya dimunculkan dalam bentuk grafis.
Jika tersedia, bisa juga disisipkan gambar peristiwa sebelumnya.
- Phone
Record
Phone Record adalah
format berita TV yang direkam secara langsung dari lokasi reporter meliput,
tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda (delay). Format ini sebetulnya
hampir sama dengan Live by Phone, hanya teknis penyiarannya secara
tunda. Format ini jarang digunakan, dan biasanya hanya digunakan jika
diperkirakan akan ada gangguan teknis saat berita dilaporkan secara langsung.
- Visual
News
Visual News adalah
format berita TV yang hanya menayangkan (rolling) gambar-gambar yang
menarik dan dramatis. Presenter cukup membacakan lead in, dan kemudian visual
ditayangkan tanpa tambahan narasi apa pun, seperti apa adanya. Format ini bisa
dipilih jika gambarnya menarik, memiliki natural sound yang dramatis (misalnya:
suara jeritan orang ketika terjadi bencana alam atau kerusuhan, dan
sebagainya). Contoh berita yang layak menggunakan format ini: menit-menit
pertama terjadinya bencana Tsunami di Aceh.
- Vox Pop
Vox pop (dari
bahasa Latin, vox populi) berarti “suara rakyat.” Vox pop
bukanlah format berita, namun biasa digunakan untuk melengkapi format berita
yang ada. Isinya biasanya adalah komentar atau opini dari masyarakat tentang
suatu isyu tertentu. Misalnya, apakah mereka setuju jika pemerintah menaikkan
harga bahan bakar minyak (BBM).
Jumlah
narasumber yang diwawancarai sekitar 4-5 orang, dan diusahakan mewakili
berbagai kalangan (tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, dan
sebagainya). Durasi vox pop sebaiknya singkat saja dan langsung menjawab
pertanyaan yang diajukan.
Struktur
Penulisan Berita TV
Ada
perbedaan besar antara menulis naskah berita untuk didengar (dengan telinga)
dan menulis untuk dibaca (dengan mata). Narasi berita televisi yang baik memiliki
awal (pembuka), pertengahan, dan akhir (penutup). Masing-masing bagian ini
memiliki maksud tertentu.
- Awal
(pembuka)
Setiap
naskah berita membutuhkan suatu pengait (hook) atau titik awal, yang
memberikan fokus yang jelas kepada pemirsa. Awal dari tulisan memberitahu
pemirsa tentang esensi atau pokok dari berita yang mau disampaikan. Hal ini
memberi suatu fokus dan alasan pada pemirsa untuk tertarik dan mau menyimak
berita yang akan disampaikan.
- Pertengahan
Karena semua
rincian cerita tak bisa dijejalkan di kalimat-kalimat pertama, cerita
dikembangkan di bagian pertengahan naskah. Bagian tengah ini memberi rincian
dari Lead dan menjawab hal-hal yang ingin diketahui oleh pemirsa. Untuk
memudahkan pemirsa dalam menangkap isi berita, sebaiknya kita membatasi diri
pada dua atau tiga hal penting saja di bagian tengah ini.
- Akhir
(penutup)
Jangan
akhiri naskah berita tanpa kesimpulan. Rangkumlah dengan mengulang butir
terpenting dari berita itu, manfaatnya bagi pemirsa, atau perkembangan
peristiwa yang diharapkan akan terjadi.
Rumus 5 C
Dalam
Penulisan Berita di Media TV, harus diperhatikan rumus 5 C, yaitu:
- Conversational
Ketika
menulis naskah berita untuk media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat,
televisi adalah media audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat
(gambar/visual) dan mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita
seperti membaca koran.
Kelemahan
media televisi adalah berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya
muncul satu kali. Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan
pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang. Kecuali mungkin untuk berita
yang dianggap sangat penting, sehingga dari waktu ke waktu selalu diulang dan
perkembangannya di-update oleh stasiun TV bersangkutan.
Keterbatasan
tersebut berlaku untuk media TV konvensional. Namun, saat ini sudah muncul
jenis media TV yang tidak konvensional. Sekarang di sejumlah negara maju sudah
mulai diperkenalkan IPTV (internet protocol television), yang bersifat
interaktif. Pemirsa yang berminat bisa mengulang bagian dari tayangan TV yang
ia inginkan, tentunya dengan membayar biaya tertentu.
Namun, IPTV
mensyaratkan adanya infrastruktur telekomunikasi pita lebar yang canggih dan
mahal, yang saat ini belum tersedia di Indonesia. Dalam dua atau tiga tahun ke
depan (katakanlah sampai tahun 2010), tampaknya infrastruktur semacam ini juga
belum siap untuk mewujudkan kehadiran IPTV di Indonesia. Jadi, dalam pembahasan
teknik penulisan naskah berita, kita mengasumsikan, media televisi di Indonesia
sampai tahun 2010 masih akan bersifat konvensional.
Untuk media
televisi yang konvensional, sebuah tayangan berita tidak bisa disimak dan
dibaca berulang-ulang seperti kita membaca koran. Pemirsa hanya punya satu
kesempatan untuk menangkap isi berita Anda. Oleh karena itu, berita di TV
dibuat dengan gaya bahasa bertutur, seperti percakapan sehari-hari, karena ini
adalah gaya bahasa yang paling akrab dan biasa didengar orang. Tulislah naskah
berita seperti gaya orang berbicara.
Misalnya,
dalam percakapan sehari-hari, kita amat jarang menggunakan kalimat yang
berpanjang-panjang, atau memiliki anak-anak kalimat. Namun, meskipun berita di
TV menggunakan gaya bahasa bertutur, tata bahasanya tetap harus benar.
- Clear
Batasi
kalimat untuk satu gagasan saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk
menangkap dan memahami isi berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang,
yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan kalimat yang rumit.
Atribusi
untuk narasumber disampaikan lebih dulu sebelum pernyataannya, dan bukan
sebaliknya. Hal ini untuk menghindarkan kebingungan di pihak pemirsa, dalam
membedakan mana narasi dari si reporter dan mana opini dari si narasumber. Ini
bertolak belakang dengan praktik yang biasa dilakukan di media cetak.
Jangan
menggunakan terlalu banyak angka. Penyebutan angka-angka sulit ditangkap oleh
pemirsa ketika mendengarkan berita. Buatlah angka itu mudah dimengerti. Jangan
menempatkan angka di awal kalimat, karena bisa membingungkan.
- Concise
Gunakan
kalimat-kalimat yang bersifat pernyataan (deklaratif). Tulislah kalimat-kalimat
yang pendek. Menurut hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih
kuat, ketimbang kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib
tentang panjang kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap
kalimat yang Anda tulis tidak lebih dari 20 kata.
- Compelling
Tulislah
dalam bentuk kalimat aktif. Para penulis berita menggunakan kalimat aktif
karena lebih kuat dan lebih menarik. Selain itu, kalimat aktif juga lebih
pendek daripada kalimat pasif.
- Cliché
free
Kalimat atau
pernyataan klise adalah pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di
media. Pernyataan klise mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus
diakui, banyak reporter merasa sulit menghindari pernyataan klise seperti ini.
Contoh
kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu masih dalam penyelidikan.”
Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak memberi informasi tambahan apapun
kepada pemirsa.
Maka,
kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang lebih informatif. Misalnya:
“Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui penyebab kecelakaan. Polisi
mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat diungkapkan hari Jumat besok.
Reportase Trans TV akan melaporkan perkembangan ini besok untuk Anda.”
Aturan-aturan
Dasar
Ada
aturan-aturan dasar tertentu dalam penulisan berita untuk media televisi.
Aturan ini bertujuan untuk membuat isi berita tersebut lebih mudah dipahami
oleh pemirsa. Aturan ini juga akan membantu dan memudahkan presenter atau
reporter di lapangan untuk membacakan berita tanpa kesalahan.
- Angka
Dalam
penulisan angka, sebutkan jelas angka dari “satu” sampai “sebelas”. Lebih dari
“sebelas”, ditulis dalam bentuk angka: 12, 14, 25, dan seterusnya.
Untuk uang
senilai Rp 145.325,50 tulis saja “seratus empat puluh lima ribu rupiah” atau
“145 ribu rupiah.”
Untuk
menyebut tahun, sebut apa adanya, karena presenter akan dengan cepat memahami
angka tahun. Misalnya: 1998, 2007, dan seterusnya.
- Singkatan
dan akronim
Tuliskan
dengan jelas singkatan sebagaimana Anda ingin mendengarnya on air. Misalnya:
ITB ditulis “I-T-B.”
Jika suatu
akronim sudah cukup dikenal, biarkan seperti apa adanya di naskah. Misalnya:
NATO, OPEC, BAKIN, dan sebagainya.
Namun, jika
si reporter ragu pemirsa akan memahami singkatan atau akronim itu, gunakan saja
kepanjangan lengkapnya. Hal itu lebih aman dan menghindarkan presenter dari
kemungkinan membuat kekeliruan.
- Punctuation
Jangan
gunakan punctuation dalam penulisan berita. Juga colon dan semicolon.
Koma juga jarang digunakan dalam naskah untuk menandai jeda atau perubahan
pemikiran. Presenter lebih suka menggunakan tiga titik (“…”) untuk menandai
jeda, karena lebih mudah dibaca di alat TelePrompTer.
- Nama
Selalu
gunakan nama dan gelar secara sederhana dan bertutur. Jika Anda harus
mengidentifikasi seseorang dengan gelarnya, tuliskan gelar itu di depan nama
mereka, seperti ketika kita memberi atribusi. Kita bisa menambahkan informasi
identifikasi lain, sesudah menyebut nama.
- Spelling
Salah
menyebut kata atau salah mengeja bisa terjadi pada presenter. Itulah sebabnya,
sebelum tampil di layar TV, mereka memang sebaiknya membaca dulu naskah
beritanya. Namun, sering hal ini tak dilakukan karena berbagai sebab. Entah
karena sekadar malas, atau berita memang ditulis dadakan. Untuk menghindari
kekeliruan, reporter yang menulis berita perlu memberitahu presenter, tentang
cara mengucapkan nama atau istilah tertentu yang tidak biasa.
- Grammar/Tata
bahasa
Tata bahasa
yang buruk bisa berdampak jelek pada penampilan presenter. Maka, periksalah
sekali lagi naskah berita, untuk menghindari tata bahasa yang buruk, sebelum
naskah itu diserahkan ke presenter.
Lead yang
Menjual
Setiap
berita harus dimulai dengan kalimat lead yang kuat. Lead yang paling efektif
biasanya mengacu ke beberapa aspek dari berita, yang dianggap penting atau
menarik bagi pemirsa. Aspek ini kita namai “hook.” Kenali aspek dalam berita
itu yang akan memancing perhatian pemirsa dan gunakanlah pada kalimat lead.
Lead semacam itu akan memelihara tingkat perhatian dari pemirsa TV.
MENULIS BERITA RADIO DAN TELEVISI
Kealamiahan
berpikir seringkali hilang ketika seseorang dibatasi kolom dan durasi. Sebagai
penulis berita siaran, hendaknya jurnalis berpikir bagaimana suatu kata atau
gabungan kata akan terdengar. Seorang penulis/jurnalis radio atau televisi,
harus paham bahwa ia menulis untuk telinga.
Memberitakan suatu pidato, sebaiknya
reporter menulis lebih singkat dari reporter cetak. Naskah berita siaran
haruslah; mudah dibaca oleh pembaca berita; dan mudah dimengerti oleh
pendengar.
Maka sebaiknya ia membuat berita sesingkat ini:
—Rektor Hamud Hamundu hari ini mengatakan bahwa mahasiswa dari luar propinsi sangat penting bagi Universitas Haluoleo—
atau,
—Rektor Mahmud Hamundu mengatakan mahasiswa dari luar propinsi sangat penting bagi Universitas Haluoleo—
Maka sebaiknya ia membuat berita sesingkat ini:
—Rektor Hamud Hamundu hari ini mengatakan bahwa mahasiswa dari luar propinsi sangat penting bagi Universitas Haluoleo—
atau,
—Rektor Mahmud Hamundu mengatakan mahasiswa dari luar propinsi sangat penting bagi Universitas Haluoleo—
Dasar
Dasar yang seringkali dianut pada
umumnya media adalah: ketelitian dan jelas. Kata-kata yang digunakan harus
tepat, tata bahasanya benar, konstruksi kalimat mudah diikuti, dan organisasi
ceritanya logis. Lead-nya menarik perhatian ke unsur utama berita itu.
Kecerobohan mengabaikan hal-hal mendasar dalam proses ini akan merugikan
pendengar.
Pendengar tak mungkin menelepon kantor redaksi radio atau televisi dan meminta mengulangi pembacaan berita.
Pendengar tak mungkin menelepon kantor redaksi radio atau televisi dan meminta mengulangi pembacaan berita.
Press Release
Maksimal durasi press release lima
menit, dengan panjang naskah 50 baris ketikan (rata-rata pembaca berita membaca
15-16 baris per menit). Di dalam 50 baris ketikan itu, dapat dimasukkan enam
sampai delapan berita.
Resiko: pembaca berita harus selektif mengingat pendeknya waktu yang ada.
Resiko: pembaca berita harus selektif mengingat pendeknya waktu yang ada.
Breaking News
Tak semua press release dapat
dikategorikan dalam program ini. Artinya, Press Release adalah breaking
news, namun breaking news tak selalu press release.
Persamaannya, kedua jenis ini sama pentingnya. Berbeda dengan press release,
yang tidak diprogram penanyangannya, sebuah program breaking news dapat
dijadikan program tetap setiap jam selama waktu siar dalam sehari.
Perbedaan lainnya, press release kadang disajikan jika sewaktu-waktu ada berita yang sangat penting dan harus disiarkan, maka tayangan ini muncul secara tak terduga. Pengelola program acara kadang tak adapat menolak tayangan ini. Oleh itu, tayangan ini dapat masuk/diselipkan di tengah-tengah acara yang sedang berlangsung.
Namun breaking news tidak seperti ini. Ia telah diprogram terlebih dahulu, tetapi berita yang disiarkan dalam program ini adalah berita-berita terbaru, tanpa frame atau dengan frame pendukung materi berita.
Bahkan dalam program breaking news, pengelola siaran dapat menggaet iklan, sebab program ini adalah salah satu mata acara unggulan atau masuk pada jam-jam siar utama.
Berita breaking news terdiri dari 50 baris ketikan, dan di dalamnya memuat delapan sampai 10 berita. Ini konvensi saja, sebab durasi ini sangat tergantung banyak-tidaknya berita yang akan ditayangkan. Tapi untuk mengejar waktu tayangnya yang hanya lima menit, seorang redaktur pemberitaan MEDIA televisi/radio harus selektif memilah mana berita yang layak siar.
Perbedaan lainnya, press release kadang disajikan jika sewaktu-waktu ada berita yang sangat penting dan harus disiarkan, maka tayangan ini muncul secara tak terduga. Pengelola program acara kadang tak adapat menolak tayangan ini. Oleh itu, tayangan ini dapat masuk/diselipkan di tengah-tengah acara yang sedang berlangsung.
Namun breaking news tidak seperti ini. Ia telah diprogram terlebih dahulu, tetapi berita yang disiarkan dalam program ini adalah berita-berita terbaru, tanpa frame atau dengan frame pendukung materi berita.
Bahkan dalam program breaking news, pengelola siaran dapat menggaet iklan, sebab program ini adalah salah satu mata acara unggulan atau masuk pada jam-jam siar utama.
Berita breaking news terdiri dari 50 baris ketikan, dan di dalamnya memuat delapan sampai 10 berita. Ini konvensi saja, sebab durasi ini sangat tergantung banyak-tidaknya berita yang akan ditayangkan. Tapi untuk mengejar waktu tayangnya yang hanya lima menit, seorang redaktur pemberitaan MEDIA televisi/radio harus selektif memilah mana berita yang layak siar.
Bagaimana
Sebaiknya Membuat Berita
- Informasi penjelas sebaiknya
tidak diletakkan di awal kalimat. Jangan mendahului pokok utama berita. Memisahkan
kedua unsur ini dapat dilakukan dengan menambah beberapa kata penghubung,
seperti “kalau”, “tetapi”.
- Intro harus menarik perhatian. Sebuah intro tak boleh disesaki terlalu banyak fakta.
Sebagai kata pembuka, intro tak boleh membingungkan pembaca.
- Kalimat pertama menentukan
perhatian pendengar.
Setelah intro tentu akan
dimulai dengan berita. Kata-kata pertama dalam berita harus menarik dan
singkat. Kalimat yang panjang dan bertele-tele akan membingungkan
pendengar. Pembaca berita pun akan terengah-engah sebelum kalimatnya
tuntas. Pendengar seolah-olah diberi setumpuk informasi tanpa diberi
kesempatan mencerna atau memahami seperti apa informasi tersebut.
Akibatnya, berita itu tak dapat diingat, dan jadi tak menarik.
- Jangan menggunakan kutipan dan
pertanyaan langsung saat memulai berita.
Jangan membuat pendengar bingung, menentukan apakah suara yang didengarnya
adalah suara penyiar atau orang lain. Intro seperti ini lebih tepat
digunakan dalam iklan.
- Selesaikan satu demi satu. Jangan beranjak ke berita lain sebelum berita yang
sedang dibacakan jelas.
- Jangan berpanjang lebara dan
bertele-tele.
Standar berita radio dan
televisi tak lebih dari 20 kata (tanpa insert) dan 30 kata (ber-insert).
Mengidentifikasi
Narasumber.
Jangan memulai berita dengan nama
asing. Selain terlalu sulit untuk diingat, juga untuk telinga yang tak peka
akan sulit menangkap. Sebaiknya, berikan ke pendengar Anda, intro yang
menjelaskan orang itu.
[“Wa Rulia, mengeluhkan kurangnya pembeli di pasar Lawata”]
Contoh di atas sangat buruk. Sebaiknya gunakan seperti kalimat ini :
[“Seorang pedagang sayur, Wa Rulia, mengeluhkan kurangnya pembeli di pasar Lawata”].
Penyebutan umur orang jangan mempersulit pembaca berita dan membingungkan pendengar. Beri kesempatan pembaca berita bernafas dan mengatur intonasi kalimatnya. Contoh:
[“Wa Rulia (yang) berumur 35 tahun…”]
[“Wa Rulia, mengeluhkan kurangnya pembeli di pasar Lawata”]
Contoh di atas sangat buruk. Sebaiknya gunakan seperti kalimat ini :
[“Seorang pedagang sayur, Wa Rulia, mengeluhkan kurangnya pembeli di pasar Lawata”].
Penyebutan umur orang jangan mempersulit pembaca berita dan membingungkan pendengar. Beri kesempatan pembaca berita bernafas dan mengatur intonasi kalimatnya. Contoh:
[“Wa Rulia (yang) berumur 35 tahun…”]
Kutipan
Tidak mengobral kutipan langsung
dari narasumber. Pendengar lebih senang jika kutipan dibacakan dengan bahasa
penyiar sendiri.
Sebaliknya, jika kutipan itu sangat bersemangat, kontroversial, atau sangat bermakna, maka jangan ragu-ragu menampilkannya (berupa insert). Pendengar butuh hentakan-hentakan yang memberi ragam berita yang dibuat. Hentakan-hentakan seperti itu dapat diperoleh pendengar dari intonasi suara pembaca berita atau dari pendapat yang sama sekali baru.
Sebaliknya, jika kutipan itu sangat bersemangat, kontroversial, atau sangat bermakna, maka jangan ragu-ragu menampilkannya (berupa insert). Pendengar butuh hentakan-hentakan yang memberi ragam berita yang dibuat. Hentakan-hentakan seperti itu dapat diperoleh pendengar dari intonasi suara pembaca berita atau dari pendapat yang sama sekali baru.
Daftar rujukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar